Kemandirian Belajar Di Tengah Pandemi Covid 19

0
316
Darling, daring lagi! Jangan lagi “darting”, tapi mari ciptakan kemandirian belajar.
Pupus sudah harapan semua pihak, bahwa mulai awal tahun ini pembelajaran daring akan disudahi. Pandemi masih perkasa. Tak ada tanda-tanda akan lekas usai. Jelas ini tantangan besar kepada siapa saja yang katanya “hebat”.
Terbayang, wajah-wajah “darting” di banyak rumah. Saking kesulitan menjadi guru bagi anak sendiri. Tapi guru yang sesungguhnya pun tak kalah “darting”.
Lalu sampai kapan kita harus terus begini? Bagaimana seandainya pandemi ini akan menjadi “abadi”?
Pemerintah telah memberlakukan Undang-Undang Darurat Kesehatan hingga tahun 2022. Ini langkah antisipati yang jitu. Meski tidak dijamin, bahwa pada tahun depan pandemi akan usai.
Khusus di bidang pendidikan, alangkah baiknya kalau dari sekarang diambil kebijakan yang tidak lagi menjadikan pembelajaran daring sebagai “langkah darurat” belaka.
Taruhlah misal, pandemi ini diasumsikan berlangsung paling cepat lima tahun ke depan. Maka pembelajaran daring mesti diberdayakan sebagai model utama untuk proses pendidikan bagi siswa kelas lanjut, apalagi SMP dan SMA.
Caranya? Rumit memang. Tapi ambil misalnya pembenahan pendekatan pedagogia yang melandasi proses pendidikan di sekolah dasar dan sekolah lanjutan. Ini mesti dikombinasikan dengan pendekatan heutagogia.
Pemerintah telah merampingkan muatan kurikulum setiap mata pelajaran. Juga telah menyediakan kuota gratis selang empat bulan lampau. Kendati begitu, pembelajaran terasa kurang efektif, karena pendekatannya masih cenderung berkutat pada pedagogia, apalagi diklaim sebagai “alternatif masa darurat”.
Bila pada masa pandemi yang entah kapan berakhir ini mulai diujicobakan pendekatan heutagogia (menekankan kemandirian belajar siswa), maka otomatis perlu dilakukan pembaruan sistem atau model evaluasi pembelajaran. Ini butuh peran pemangku kewenangan sebagai “otak” dunia Pendidikan Nasional.
Bagaimana kongkretnya?
Tidak usah lagi pake model test. Justru model test hanya membuat siswa dibiasakan untuk (maaf) berbuat curang dengan cara bebas menyontek. Karena memang di luar jangkauan pengawasan.
Adalah lebih tepat menerapkan model penilaian semacam portofolio dan projek. Ini sebetulnya sudah diamanatkan dalam Kurikulum 2013 (K-13) tapi cenderung diabaikan pada implementasinya.
Model penilaian begini dapat menumbuhkan kemandirian belajar siswa. Pada saat yang sama model ini memotivasi guru untuk lebih komit pada tanggung jawabnya, yakni melakukan pembimbingan belajar secara rutin.
Begitu dari saya. Ya, lebih berguna memikirkan “kebaikan di balik pandemi” daripada larut dalam cara hidup si pungguk merindukan bulan pandemi cepat usai tapi toh tidak jelas kapan usainya.
Penulis: Sovian Lawendatu (Guru di Kota Bitung, Sulawesi Utara).
Advertisement