Masa Lalu Wakil Bupati Sangihe, Helmud Hontong Dituturnya Sebagai Motivasi

2
1072

KOMPAQ.ID||MANADO. Di sela-sela acara Perayaan Natal dan Pelantikan Bapilu Golkar Sulawesi Utara tadi malam, 11/1-2019 di GKCC Manado, sambil menunggu mendaratnya Ketua Umum PG di Bandara Sam Ratulangi Manado, Panitia meminta Wakil Bupati Sangihe, Helmud Hontong untuk menyampaikan motivasi hingga ia jadi wakil bupati.

Tak terasa sekitar satu jam lamanya Hontong mengurai kilas balik hidupnya. Embo, begitu ia biasanya disapa. Terlahir dari keluarga yang amat sederhana. Waktu masa sekolah ia harus berjualan es dan permen. Di saat teman-temannya yang lain asyik bermain, embo harus menjaga jualannya agar tidak tekor. Bahkan di saat kuliahpun ia harus nyambi kerja di toko. Namun ia jalani dengan penuh syukur. Bahkan beliau sempat mengikuti kursus make-up. Di saat Ibu Meiva Lintang menjadi Ibu Bupati di Sangihe, Embo sering dipanggil untuk merias dirinya.

Pada tahun 2009 Embo maju menjadi Caleg DPRD di Sangihe dari partai Golkar di Dapil 1 (Kec. Manganitu, Kec. Manganitu Selatan, Kec. Tamako dan Kec. Tatorareng). Disinilah awal mula karir seorang Helmud Hontong di politik. Dia terpilih sebagai anggota legislatif Sangihe Periode 2009 – 2014.

Tak berhenti disini, pada putaran kedua Embo kembali mencoba peruntungannya dengan mencalonkan diri lagi dan ternyata masyarakat menaruh kepercayaan penuh padanya, sehingga ia kembali menjadi terpilih menjadi anggota DPRD dengan suara terbanyak.

Saat seleksi Cawabup untuk mendampingi Bapak Jabes Ezar Gaghana, namanya pun tak masuk di list. Tapi ternyata si “Daud Anak Kampung”-lah yang dipilih Tuhan untuk maju mendampingi JEG dalam pertarungan panas memperebutkan kursi 01 Sangihe.

“Saaat saya jadi Calon Wakil Bupati Sangihe, dapur saya berlantaikan tanah. Dindingnya dari seng bekas, atapnya juga dari seng bekas. Jika hujan airnya masuk, maka embo makan nasi campur air hujan, kisahnya.

Hontong melanjutkan kisah perjuangannya memenangkan Golkar tanpa sepeserpun duit.

“Saya maju pun tak ada uang. Sampai ada orang berkata, Ini calon so nda ada doi kong mo mati kemari nintau kalo mo pake kebaya ato jas. Saya tidak dendam terhadap orang itu, tapi saya memberkatinya. Saya berdoa, Tuhan ampunilah dia, sebab dia tidak tahu apa yang diperbuat”, Imbuh Hontong.

Suasana perayaan Natal PG inipun menjadi rasa nano-nano, ada peserta yang bertepuk tangan tapi ada pula yang sampai meneteskan air mata terbawa haru. Hontong terus melanjutkan motivasinya bagi kader-kader PG dengan closing statement.

“Yang perlu kita lakukan adalah jangan menjelekkan orang lain demi kepentingan kita, melayani dan membantu rakyat dengan sungguh. Walaupun kita tidak ada uang, tapi jika kita mengandalkan TUHAN serta mau membantu mereka dengan sepenuh hati kita maka mereka akan setia mendukung kita”.

Next, pidato motivasinya itu ditutup dengan sebuah lagu berjudul: “Jangan Kau Salah menilaiku”. Luar biasa. (Nia).