Pertama Kali Dalam Sejarah, Tradisi Adat Tulude Ditolak Sangadi

1
2925

KOMPAQ.ID||POIGAR| Komunitas Petani Penggarap Tanah HGU di Desa Tiberias Bolaang Mongondow kemarin, Rabu (6/2) menggelar acara adat Tulude di Desa Tiberias. Komunitas tersebut mengundang warga Nusa Utara dari 11 kampung terdekat di wilayah Mongondow. Saat disambangi kru Kompaq.id tampak acara berlangsung dengan baik dan sangat kondusif. Ternyata setelah diikuti dengan seksama, acara tersebut berlangsung tidak biasa.

Diketahui dari Panitia, Abner Patras (47) bahwa Panitia telah menyiapkan acara ini dengan matang. Kesiapan tersebut terlihat dengan adanya sekelompok penari gunde yang didatangkan dari luar daerah. Panitia juga sudah mempersiapkan kue adat tamo yang dibuat di Sangihe. Mereka pikir acara adat merupakan wahana untuk memperkuat ikatan solidaritas dalam kehidupan masyarakat khususnya warga Nusa Utara di rantau.

Tampak pula dalam hajatan adat itu hadir beberapa anggota legislatif dan calon legislatif dari tingkat Kabupaten sampai ke level provinsi. Mereka sama sekali tidak dimintai dana untuk biaya apapun dari panitia. Sayangnya kegiatan sakral ini tidak berjalan sesuai rencana. Prosesi unsur adat seperti tidak muncul, tampak acara berlangsung sebatas ibadah biasa saja.

Ditelisik lebih jauh ternyata hajatan ini tidak mendapatkan rekomendasi ijin dari Sangadi (Kepala Desa) kepada pihak kepolisian setempat. Tak disangka sama sekali, acara adat warga Nusa Utara bisa tidak diijinkan berlangsung di tanah Bolmong, kata Patras dengan kesal. Meskipun demikian, untuk meredahkan emosi warga agar tidak melakukan tindakan anarkis, beberapa tokoh masyarakat yang hadir memberikan nasehat agar warga komunitas petani penggarap tetap bersabar dan menghadapi setiap permasalahan dengan tindakan hukum.

“Negara kita negara hukum, jika ada oknum pejabat di daerah tidak melaksanakan apa yang menjadi kewajibannya sehingga menimbulkan kerugian bagi pihak lain, maka masyarakat dapat menempuh langkah hukum untuk memberikan efek jerah, kata Didi Koleangan yang dikenal sebagai advokat bagi kepentingan masyarakat Tiberias.

Koleangan bersama Jull Takaliuang hadir dalam hajatan ini sebagai undangan warga karena jasa mereka membela kepentingan warga yang selalu dilakukan dengan pendekatan juridis.

Jull Takaliuang mengatakan, ini untuk pertama kalinya hajatan adat istiadat etnik nusa utara yang sudah diakui UNESCO sebagai kekayaan budaya Indonesia ini tidak diijinkan oleh oknum pejabat. Padahal Tulude sebagai kekayaan budaya Indonesia dapat diselenggarakan dimana saja di muka bumi ini. Di Amerika Tulude tidak perlu ijin, di Jakarta pun demikian, tetapi di Mongondow ini tidak diberi ijin, kata Jull dengan penuh haru. (Dirno).