Senat Mahasiswa Menolak Penggantian Pimpinan Secara Sepihak Oleh Yayasan

0
251

KOMPAQ.ID. MANADO. Konflik Yayasan dengan Pimpinan STISIP Merdeka Manado terus berlanjut. Salah satu target pihak Yayasan Merdeka untuk mengambil-alih penyelenggaraan proses kegiatan akademik di kampus STISIP Merdeka dari kepemimpinan Dr Drs Handrie Dunand Pangemanan, SH MSi telah menuai hasil. Terbukti dengan ditetapkannya pimpinan baru, yaitu Dr Dra Alfien Pandeleke MSi (Wakil Ketua II Bidang Keuangan) menjadi Ketua yang baru menggantikan Dr Drs Handrie Dunand Pangemanan, SH MSi. Konon, penggantian tersebut didasari atas pengunduran diri Dr Drs Handrie Dunand Pangemanan, SH MSi melalui pesan singkat (SMS)-nya. Bersamaan dengan itu, seluruh personil Senat Perguruan Tinggi pun diganti oleh Pihak Yayasan.

Tindakan Yayasan itu mendapat penolakan keras dari Senat Mahasiiswa STISIP Merdeka. Rudy Noorwansyah kepada Kompaq mengatakan, secara kelembagaan Senat Mahasiswa adalah bagian integral dari organ organisasi STISIP dan lebih dari itu merupakan representasi publik dalam konteks Yayasan, sehingga publik harus bicara untuk menegakkan aturan demi keadilan di kampus.

Kami selaku masyarakat pendidikan yang tergabung dalam Senat Mahasiswa, mempunyai hak untuk menolak kebijakan Yayasan yang memberhentikan pimpinan STISIP saat ini, karena akan memperkeruh keadaan. Kepentingan mahasiswa sudah pasti terganggu dengan kebijakan yang kami pandang buruk dan beresiko bagi keabsahan status hukum kelulusan mahasiswa dari STISIP, tegas pria yang dikenal dengan panggilan Ydur itu.

Noorwansyah menambahkan, tindakan Yayasan tersebut telah menyalahi dan melanggar statuta yang disepakati bersama. Kebijakan Yayasan itu didasarkan pada Statuta 2016 yang dibuat pasca lengsernya Ewald Frederik dari posisi Ketua STISIP.

Ewald membuat Statuta tahun 2016, padahal kami tahu bahwa Statuta 2014 masih berlaku. Setahu saya, sebuah statuta dapat dibaharui dalam waktu paling tidak 6 tahun. Tapi Ewald setelah tidak terpilih menjadi Ketua karena status akademiknya saat itu belum S2, jauh-jauh hari dia membuat perubahan statuta. Statuta perubahannya itu belum disahkan. Kami selaku senat belum menandatanganinya, ungkap Noorwansyah.

Ewald sendiri diketahui mendapatkan gelar S2nya dari UNSRAT Manado pada bulan April 2018. Tiga bulan kemudian, tepatnya pada bulan Juli 2018 terjadi insiden penyegelan ruang akademik dan “pencurian” komputer  database yang disinyalir digerakkan oleh Ewald Frederik. Ada indikasi, Ewald melakukan “upaya kudeta” terhadap kepemimpinan Dr Drs H.D. Pangemanan, SH MSi sebelum masa jabatannya berakhir.